review music records indie label di berbagai majalah


Review dari berbagai media tentang debut buku saya "Music Records Indie Label (Dar Mizan, 2008)". watch it out :)


Jurnalisme Gonzo: Dalam Bingkai Jurnalisme Sastra dan Budaya


Abstrak:
Tom Wolfe, wartawan-cum-novelis, pada tahun 1960-an memperkenalkan genre jurnalistik bernama “new journalism” (jurnalisme baru). Pada tahun 1973, Wolfe dan EW Johnson menerbitkan buku antologi berjudul The New Journalism berisi narasi-narasi terkemuka dari generasi penulis macam Joan Didion, Truman Capote, Jimmy Breslin, dan Hunter S. Thompson. Jurnalisme sastra adalah satu dari setidaknya tiga nama buat genre jurnalistik yang berkembang di Amerika Serikat di mana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukan dengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak dibaca. Genre ini berbeda dari reportase sehari-hari karena dalam bertutur ia menggunakan adegan demi adegan (scene by scene construction), reportase yang menyeluruh (immersion reporting), menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person point of view), serta penuh dengan detail. Jurnalisme bergaya seperti ini pun mulai menarik banyak perhatian pembaca. Apalagi soal kecepatan, jurnalisme tradisionil dianggap terengah-engah menghadapi kecepatan televisi dan radio yang begitu jumawa menampilkan informasi. Sejumlah pemikir jurnalistik pun hadir dengan mengetengahkan gaya penulisan bak novel, naratif, enak dibaca, mendalam, dan memikat. Hunter S. Thompson adalah salah satu dari pemikir jurnalistik yang termasuk ke dalam gelombang pertama para jurnalis bergaya sastra, selain Tom Wolfe dan Gay Talese. Jurnalisme sastra pun tak hadir sendiri. Perkembangannya kemudian memunculkan wacana-wacana baru seputar jurnalisme sastra itu sendiri. Yang paling dikenal mungkin kemunculannya jurnalisme gonzo yang dipelopori oleh Hunter S. Thompson. Gaya bercerita naratif bak novel dengan pembangunan karakter dan plot masih menjadi senjata utama dan subjektif dengan kata ganti orang pertama menghiasi tulisan-tulisannya. Juga erat kaitannya dengan budaya-budaya tahun 60-an yang erat kaitannya dengan semangat anti-kemapanan, budaya perlawanan, gerakan perdamaian, dan kebiasaan narkoba. Bisa dikatakan jurnalisme gonzo merupakan sub-genre dari jurnalisme sastra.

Latar Belakang

Di Amerika, jurnalisme baru lahir dan berkembang sepanjang dekade 1960-an. Pada sekitar era inilah kemudian berkembang yang namanya jurnalisme baru atau new journalism yang dirintis oleh Tom Wolfe, seorang wartawan cum penulis cum doktor American Studies dari Yale University. New Journalism merupakan sebuah sebuah buku antologi. Tom Wolfe dan EW Johnson menjadi editor. Mereka memasukkan narasi-narasi terkemuka zaman itu antara lain Truman Capote, Joan Didion, Jimmy Breslin, dan Hunter S. Thompson, yang kemudian mengembangkan genre jurnalisme sastra atau new journalism ini menjadi gonzo journalism yang menjadi titik fokus dari penulisan makalah ini.

Demokrasi di Kotak Televisi

Menjelang Pemilu 2009, suhu politik mulai menyengat. Tak hanya di gedung DPR yang sarat manuver politik atau jalan-jalan yang penuh poster para calon anggota legislatif, panasnya suhu politik di negeri kita juga terasa di layar kaca. Lihat saja saat ini, stasiun televisi seakan berlomba menyajikan tayangan bergenre politik.

Burn Your Television, Read More

She stepped off the bus out into the city streets/ just a small town girl with her whole life/ packed in a suitcase by her feet/ but somehow the light’s didn’t/ shine as bright as they did/ on her mamas tv screen/.

Jika mencermati penggalan lirik lagu “Fallen Angel” dari grup band Poison di atas, rasanya televisi bukan lagi sekedar kotak elektronis yang memancarkan sinar biru katoda atau sekedar medium representasi dan kumpulan citra. Lebih dari itu, televisi kita sehari-hari telah menjadi tingkat konsumsi. Menyedihkannya, kita mengkonsumsi apa yang tidak layak konsumsi? Basi? Eksploitasi? Minim edukasi?

Indie Label, Pergerakan Yang Tak Pernah Mati

Dalam industri musik kita mengenal istilah major label dan indie label. Major label adalah sebuah perusahaan rekaman besar kapital seperti Sony BMG, Universal, EMI, atau Warner. Sebaliknya, indie label diartikan sebagai sebuah perusahaan rekaman kecil yang mandiri, Do It Yourself, dengan skala yang tidak sebesar major label. Nama-nama indie label seperti Sub Pop Records, Dischord Records, Fat Wreck Chords Records, dan masih banyak lagi cukup dikenal orang-orang dan memiliki pengaruh tersendiri bagi industri musik.

Welcome To The Creativity Hobby

“The best way to make happy money is to make money your hobby and not your god.”
- Scott Alexander -


Bandung sepuluh tahun yang lalu memiliki masalah yang sama dengan kota-kota di Indonesia lainnya: Krisis Moneter! Sejumlah anak muda merasa mesti survive terhadap kondisi tersebut. Seorang anak muda bernama Dendy Darman, yang juga lulusan Fakultas Seni Rupa & Desain ITB, memiliki hobi surfing. Agar bisa survive, Dendy yang juga menyukai desain grafis lantas mulai menyablon sendiri desain-desainnya dan menjual kaus-kaus tersebut pada turis-turis asing sekitar pantai atau menjualnya pada teman-temannya. Akibat dari hobi desain dan surfing, Dendy melahirkan sebuah distro fenomenal: 347 Clothing atau sekarang dikenal UNKL347.

Bahkan fenomena kelahiran industri kreatif di negeri ini pun tak jauh lahirnya dari yang namanya hobi dan bersenang-senang. Mayoritas distro dan clothing yang hadir saat ini adalah bukti konsistensi mereka terhadap hobi yang menyenangkan. Omzetnya pun bukan main-main, ada yang mencapai ratusan juta rupiah per bulan!
Lihatlah, hobi bisa menjadi tumpuan ekonomi!

ketika kehidupan itu dirampas


Dewasa ini internet tidak lagi dianggap komputer berkabel semata, bagi sebagian orang internet kini dianggap sebagai “kehidupan”.

B
agaimana rasanya jika “kehidupan” itu dirampas? Jawabannya, tentu sangat tidak enak. Hal yang sama dialami oleh Gembi (23 tahun) yang merasa “kehidupannya” dirampas ketika keluarnya peraturan pemerintah soal pelarangan situs-situs yaitu Youtube, Myspace, Multiply, Rapidshare, Metacafe, Liveleak, dan Themoviefitna.com. Ia bingung bukan kepalang. Peraturan tersebut tentu membuatnya kecewa karena beberapa situs tersebut merupakan situs-situs favoritnya. Ia merasa internet sudah menjadi pilihan menarik untuk mengisi waktu dan terlibat banyak dalam ruang yang disajikan dunia maya tersebut.